Menantikan Kebahagiaan

Post On: 7 December 2017
By:
December 7, 2017

Langit ketika itu tak tampak cerah, tetesan air mata jatuh dari mata indah seorang gadis bernama Cila. Hatinya seketika itu remuk, entah apa yang ia rasakan saat Itu. Cila anak yang riang yang selalu disukai oleh teman-temannya seketika berubah menjadi sosok yang dingin. Hari-harinya dulu sangat bahagia ketika Diko kekasihnya menemaninya, canda tawa selalu terlihat disenyum manisnya. Cila dan Diko sudah menjalin kasih sejak semasa SMA, hubungan mereka tidak terlalu dipublikasi karena Orangtua Cila tidak setuju apabila Cila memiliki kekasih di masa sekolahnya. Namun Diko dengan sabar menunggu untuk mendapatkan restu kedua orangtua Cila. Sosok Diko yang dewasa membuat Cila nyaman bersamanya.

Hari demi hari mereka lalui bersama dengan senang hati, tak tampan beban sedikitpun terlintas diwajah manis Cila. Cila yang begitu bahagia karena dia akan lulus dibangku SMA berniat akan segera memperkenalkan Diko kepada kedua orangtuanya. Layaknya anak yang sudah beranjak dewasa, Cila berharap kali ini orangtuanya menyetujui hubungan mereka. Pada hari kelulusan Cila dibangku SMA, Cila tak segan menggandeng Diko dihadapan kedua orangtuanya. Orangtuanya yang menahan emosi harus berpura-pura bahagia dihadapan orang banyak. Dengan ramah Diko memperkenalkan dirinya kepada kedua orangtuanya. Cila sangat senang akhirnya orangtuanya mengenal Diko dan langsung memeluk Ibunya . Mungkin hati ibu Cila tak sekeras hati ayahnya, tampak dari raut wajah ibunya jika ia ikhlas anaknya yang sudah beranjak dewasa memiliki kekasih.

Sesampainya dirumah, Cila langsung dipanggil oleh ayahnya. Diko yang baru saja hendak pamit ditahan oleh ayahnya untuk tetap tinggal. Antara harus senang atau heran, Cila hanya bisa menuruti kata-kata ayahnya. Ibunya yang tidak mau ikut campur urusan mereka, segera bergegas kedapur untuk mengambilkan minuman. Dengan tegas ayah Cila bertanya kepada Diko apa maksud dan tujuan dia untuk menjalin hubungan dengan anaknya. Tak hayal Diko langsung kaget mendengar pertanyaan ayahnya, Diko yang menjawab dengan nada ragu-ragu langsung dijelaskan oleh Cila. “ Dia serius dengan aku yah .. kami sudah menjalin hubungan sejak aku kelas 3 SMA dan hubungan kami berjalan dengan baik ..” jelas Cila. Ayahnya yang kaget selama ini dibohongi oleh anaknya sendiri seketika itu langsung marah. “Bagaimana bisa kamu melanggar aturan ayah Cila!” Cila yang tak dapat menahan rasa sedihnya langsung meneteskan air mata dan mencoba menjelaskan kembali kepada ayahnya. Tak ada pembelaan sedikitpun yang terlontar dari mulut Diko, ia hanya berusaha menenangkan Cila yang sedang bersedih.

Walaupun dari segi materi Diko sudah layak dikatakan pria Mapan, ayahnya tetap saja ingin yang terbaik untuk anaknya dan ingin anaknya fokus menyelesaikan perkuliahannya terlebih dahulu, dengan cara tidak langsung ayahnya mengatakan kepada Diko bahwasanya dia tetap tidak akan mengizinkan anaknya pacaran terlebih dahulu, dan mengancam apabila mereka tetap berhubungan ayahnya tak segan-segan akan memisahkan mereka dengan cara apapun. Hari semakin larut, ayahnya menyuruh Diko untuk segera pulang. Cila yang masih saja menangis sama sekali tak dihiraukan oleh ayahnya. Setelah hari itu, tampak raut bahagia dari raut wajah Cila, Diko yang seketika hilang membuatnya semakin tersakiti. Namun bagaimanapun hari baru sudah menanti cila di bangku kuliahnya. Waktu semakin berjalan, hampir seminggu ini tak ada kabar dari Diko. Cila yang sudah berusaha menghubungi Diko tak dapat balasan apapun. Rasa penasaran semakin terlintas dibenak Cila, apakah Diko selama ini memang tidak berniat serius dengannya?

Tanpa ragu Cila langsung bergegas menuju rumah Diko sepulang kuliah. Ada yang aneh dari rumah Diko yang sangat sepi, tak sama seperti biasanya. Ditemuinya hanya pembantu rumah tangganya saja yang ada dirumah itu. Ditanyakannya keberadaan Diko, dan sontak Cila langsung terpukul. Diko kecelakaan satu minggu yang lalu tepat setelah pulang dari rumah Cila. Ia langsung bergegas menuju rumah sakit untuk menemui kekasihnya. Diko yang masih terbaring lemah hanya bisa melihat samar-samar wajah kekasihnya dan terseyum kecil dilingkar pipinya. Cila tak dapat menahan rasa sedihnya dan langsung menghampiri Diko, ada orangtuanya disana yang heran melihatnya. “Nak, apakah kamu yang bernama Cila?” tanya ibunya. Mereka memang belum sempat bertemu selama ini dikarenakan orangtua Diko tugas diluar kota. Ibunya langsung memeluk Cila dan berkata : “Terima kasih telah membuat Diko bahagia selama ini .. Dia setiap malam selalu menceritakanmu .. ternyata kamu memang secantik yang ia utarakan”. Cila sangat senang mendapat sambutan hangat dari orangtuanya Cila. Cila tidak berani mengatakan bahwa Diko kecelakaan setelah pulang dari rumahnya, ibunya tidak tahu akan hal itu. Ibunya menceritakan bahwa Cila adalah satu-satunya wanita yang selalu ia ceritakan kepada orangtuanya. Cila semakin tak dapat membendung perasaannya, ia langsung menghubungi keduaorangtuanya untuk mengabari keadaan Diko. Ayahnya tetap saja tak peduli dan marah ketika anaknya masih saja tetap berhubungan dengan Diko dan langsung menyuruh ia segera pulang.

Semenjak itu Cila tak tahu sama sekali bagaimana kabarnya Diko, hari-harinya terasa hambar. hayna ia lalui hanya untuk menuntut ilmu, tak ada lelaki yang membuatnya tertarik selain Diko walaupun banyak yang menyukainya. Tiga tahun telah berlalu tak ada lagi Diko yang selalu terlintas dibenaknya, tak ada pembelaan mengenai Diko kepada orangtuanya. Cila hanya fukus untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Cila yang tengah sibuk menyelesaikan tugas akhirnya tiba-tiba dihampiri oleh seorang laki-laki yang membawa seikat bunga kesukaannya. Ternyata, dilihatnya sosok itu adalah Diko dan didampingi oleh kedua orangtuanya. Cila kaget, terharu, senang tak tertahankan. Ayah Cila langsung berkata, ayah bangga sama kamu, ayah melihat kesungguhan kamu dan Diko. Ayah kali ini merestui kalian berdua. Selama ini Diko tak pernah berhenti disitu saja, ia terus menghubungi ayah dan ibu dan menyakinkan kami berdua.

Jadi quote untuk cerita diatas ini ialah : “Tidak perlu terburu-buru, apalagi didalam urusan perasaan. Jikalau itu memang special, lama sekalipun akan tetap berharga”

Comments

comments

Tags: , , , , , ,

Related to Menantikan Kebahagiaan