Terorisme Rohingya Myanmar Tak Berujung, Oxford Jatuhkan Gelar Kehormatan Pimpinannya

Post On: 5 October 2017
By:
In: News
October 5, 2017

Terorisme seolah tidak henti-hentinya merajai problem kemanusiaan di dunia. Begitupun teroris yang melakukan pembunuhan terhadap umat muslim bertubi-tubi menghampiri. Belum selesai kasus pembunuan massal Muslim di palestina, kini dunia dihebohkan dengan berita menggemparkan tentang pembantaian umat Islam di Rohingya Myanmar. Kasus tidak manusiawi ini viral di dunia maya semenjak adanya foto-foto yang diunggah ke internet mengenai kejamnya tindakan militer Myanmar.

Kekejaman Militer tersebut dimonotori oleh aksi provokator seorang Biksu Budha. Sentimen kebencian Islam ini dilancarkan oleh dua organisasi besar yakni Asosiasi Biksu Muda Sittwe dan Asosiasi Biksu Mrauk Oo di Myanmar. Kedua kelompok besar itu melakukan penghasutan terhadap warga Myanmar agar tidak bergaul dengan Umat Islam Rohingya.

Myanmar yang notabene banyak masyarakat beragama Budha terpengaruh oleh seruan dua organisasi besar tersebut. Bukan hanya warganya saja, kedzoliman ini pun didukung oleh pihak pemerintah. Terwujud dengan adanya campurtangan pemberantasan muslim Rohingya oleh militer. Pemeluk agama Islam yang minoritas ini pun menjadi sasaran empuk bagi teroris Budha di Myanmar.

Adanya kasus ini telah banyak memakan korban jiwa. Beragam mayat terkapar tidak berdaya di sungai perbatasan Myanmar dengan Bangladesh bahkan hingga membusuk. Puluhan jenazah dapat dikeluarkan tetapi sisanya mengapung. Bukan hanya orang dewasa yang menjadi target, bahkan anak-anak pun menjadi mangsa.

Belenggu problem kemanusiaan Rohingya Myanmar yang tidak kunjung mendingin mengakibatkan Pemerintah Oxford mencabut gelar kehormatan yang didapatkan Aung San Suu Kyi selaku Pemimpin Myanman. Gelar yang Ia sambet pada tahun 1997 atas usahanya memperjuangkan demokrasi kini harus terlengserkan. Berita ini telah disiarkan oleh berbagai media, salah satunya Merdeka.com telah mewartakan.

Oxford menilai Pimpinan Myarmar tidak mampu mempertahankan gelar kehormatannya karena tidak berdaya menuntaskan persoalan ini. Ia pun disebut melakukan pelanggaran nilai demokrasi. Pasalnya, Aung San Suu Kyi membiarkan militer melakukan tindak kekerasan di negaranya dan tidak tuntas menangani pembersihan etnis. Seolah Dia mendiamkan kasus kemanusiaan yang menimpa negerinya. Tidak sepatutnya seorang yang memiliki mahkota kehormatan di bidang perjuangan demokrasi menampakkan sikap deskriminasi dan arogansi. Apalagi membiarkan kediktatoran militer. Aung San Suu Kyi disinyalir telah melanggar gelarnya sendiri karena mendukung tindak kekejian dan penyiksaan terhadap muslim Rohingya Myanmar.

“Saya mendukung mosi mencabut gelar kehormatan Aung San Suu Kyi. Saya terkejut saat mendengar tindak kekerasan di negaranya yang dialami etnis minoritas paling teraniaya,” ucap Pemimpin Dewan Oxford Bob Price dikutip dari Merdeka.com, Rabu (4/10).
“Sangat luar biasa pemimpin seperti nya tidak bisa bicara tentang kekejaman yang terjadi di negaranya sendiri,” ucarnya pun dilanjutkan.

Penghapusan gelar kehormatan Pimpinan Myanmar tepat setelah minggu yang lalu. Hal ini bersamaan dengan pencopotan lukisan Aung San Suu Kyi yang dipajang di gedung kolase Universitas St Hugh’s, Oxford. Keputusan ini ditetapkan oleh pihak oxford karena sangat kecewa atas sikap Suu Kyi.

Meski dulunya Suu Kyi pelopor gerakan demokrasi di Myanmar. Menyerukan gerakan-gerakan demokrasi dan melawan kediktatoran militer. Hingga perjuangannya tersebut menghasilkan Nobel Perdamaian yang didapatkannya. Namun berbeda dengan sekarang, kini dirinya melakukan pelangagaran tersendiri dengan apa yang telah diperjuangkan selama ini. Itulah tonggak awal kekecewaan seluruh dunia. Desakan demi desakan diserukan oleh berbagai pihak untuk mengecam dan menuntut tindak krisis kemanusiaan di Rohingya Myanmar. Hingga dijatuhkannya nobel yang dimiliki Pimpinan Myanmar tersebut.

Comments

comments

Tags: , , , , , , ,

Related to Terorisme Rohingya Myanmar Tak Berujung, Oxford Jatuhkan Gelar Kehormatan Pimpinannya